MENULIS SEBAGAI MEDIA SELF-HEALING

“Jatuh cinta dan patah hati itu energinya luar biasa. Jadi eman-eman, kalau enggak dipakai untuk hal-hal kreatif dan positif” begitulah yang disampaikan pak Fahruddin Faiz selaku pengasuh Ngaji Filsafat yang diadakan weekly di Masjid Jendral Sudirman itu.

Pasalnya patah hati kerap kali mengubah seseorang menjadi tidak nyaman, merasa lemah, badmood terus-terusan untuk melakukan apapun, dan banyak orang yang ingin terhindar dari perasaan negatif ini. Tak sedikit orang-orang menyakiti dirinya lantaran sakit hati yang diderita, bahkan sampai ada yang memilih menanggalkan nyawa demi keluar dari masalah yang membelenggunya.

Kalaupun menangis dibutuhkan saat situasi dikelilingi masalah yang bertubi, menangislah! Menangis bukan sebuah kesalahan, bukan pula simbol kelemahan, bila menangis dianggap sebuah dosa, lantas buat apa Tuhan menciptakan air mata?

Dari seorang Russel dan Gus Dur lah yang mengilhami saya untuk mencoba mengalokasikan power dari sakit hati yang diderita pada hal yang lebih bermanfaat. Akhirnya saya memutuskan menulis. Ya menulis esai maupun opini dan sesekali puisi, bukan menulis buku babon semacam Bertrand Russel. Paling tidak yang benar-benar saya yakini adalah power dari sakit hati ini sungguh mujarab.

Dari pernyataan tersebut memang ada benarnya. Bahkan tidak sedikit orang-orang yang didera patah hati menghasilkan sebuah karya fenomenal yang melegenda. Lagu yang berjudul Cidro karya mendiang Lord Didi Kempot merupakan lagu yang paling berkesan baginya karena dibuat ketika dihantam patah hati saat masih ngamen dan salah satunya menaksir seorang cewek namun tidak kesampaian.

Energi patah hati ini mampu menjadi pelecut untuk menorehkan sebuah karya. Berangkat dari pengalaman pribadi, pernah suatu ketika saya dirundung kesedihan yang tak terperikan, mungkin seperti ini yang dinamakan “terluka tapi tak berdarah” –semoga ini tidak lebay. Intinya saat itu saya benar-benar merasa sakit hati, saya bingung dan malas melakukan apapun, akhirnya saya teringat dengan sesosok Bertrand Russel, seorang filsuf ternama asal Inggris yang turut serta mewarnai kecamuk pemikiran filsafat pada masanya, bahkan pengaruhnya terguncang hingga kini. Pasalnya buku terkenalnya yang berjudul History of Western Philosophy, selain tebal, juga banyak dibaca orang dan banyak dijadikan rujukan oleh orang-orang setelahnya. Buku tersebut ternyata sebagai dampak dari hasil patah hatinya.

Lalu kemudian saya merasa digampar dengan sebuah pernyataan Gus Dur, yakni “jika kau ingin menjadi seorang penyair, maka jatuh cintalah atau patah hati”

Beberapa lama kemudian saya benar-benar menghasilkan buku yang tidak ingin saya sebut judulnya, hehe. sebuah buku yang turut merekam apa yang benar-benar saya rasakan. Pasalnya, dalam beberapa kesempatan, ide-ide terkadang seringkali muncul dengan sendirinya saat dalam keadaan emosional, seperti halnya merasakan sakit hati, kecewa, termasuk juga putus cinta, atau bahkan saat mendengar kabar bahagia dan tentu saja juga saat jatuh cinta, maka akan lebih mudah untuk menulis dibanding hari-hari biasa yang tanpa diiringi besitan emosional.

Diakui atau tidak menulis dapat menjadi media untuk self-healing. Justru saat suasana hati lagi kacau, kata perkata seolah mudah ditemukan hingga membentuk sebuah kalimat yang mengekspresikan apa yang dirasakan, terutama dalam berpuisi. Soal kesal, kecewa, dan sakit hati menjadi bahan bakar untuk duduk di depan layar sambil lalu menghayati dan mendalami kesedihan dan kekesalan yang dirasakan, intinya menumpahkan segala hal yang dikesalkan.

Apa yang dirasakan hanya perlu disampaikan, dalam menulis kita bisa jujur dan tidak menjadi orang lain, menjadi kita yang sebenarnya. Bila misal lagi marah, maka secara tidak langsung emosi yang tersulut terekspresikan dalam bentuk  tulisan yang juga penuh kemarahan, bila sedih ya menuliskan ihwal kesedihan, intinya meluapkan semua emosi negatif yang ingin semuanya dikeluarkan dari dalam kepala agar lebih legawa.  

Hal ini seolah tidak dapat ditampik benarnya, terkadang saya sering menemukan orang-orang yang tiba-tiba menjadi puitis, bahkan tidak sedikit yang begitu ekspresif khususnya melalui story WA ataupun Instagram. Baik itu berisi kata-kata yang secara singkat maupun panjang lebar sesuai kebutuhan. Mulai dari urusan dapur, ekonomi maupun perasaan, dll, bahkan dalam hal tidak enak badan pun sempat terekspos di media sosial. Kesemuanya dalam bingkai mengekspresikan apa yang dirasakan, mulai dari kesal, susah, sedih, maupun senang, namun secara umum lebih ekspresif saat keadaan sedih. Setidaknya, setelah melakukan itu, seolah merasa lega dan separuh beban juga berkurang.

Pada suatu titik saya pernah membunuh seseorang karena benar-benar kesal, dengan menggunakan belati menulis semalaman suntuk. Namun entah dia mati atau sekadar pingsan, tapi rasa-rasanya tidak.

“Ku tikam dia dalam kata, ku kerangkeng dia dalam jeruji sajak yang penuh pentungan

Ku biarkan dia membusuk dan meringkuk di dalam pentungan itu selamanya”

Percayalah, luapan emosi hanya akan menambah banyak tanda pentungan (!) dalam kata yang mengiringi. Tak hanya abadi, menulis juga dapat mengobati. Terkadang saat membaca ulang tulisan yang diluapkan secara emosional itu, kita akan tertawa setelah melihat tingkah kita yang lucu-lucu gemas saat menulisnya, dan mungkin akan berujar, “ternyata kita pernah lucu”. Secara tidak langsung kita berhasil membuat tertawa dari sikap lucu yang kita buat, kira-kira begitulah cara penulis, eh maksudnya saya menghibur diri sendiri, Haha.

Hal ini senada sebagaimana disampaikan Guru besar Psikologi, James Pennebaker dalam karyanya Opening Up: The Healing Power of Expressing Emotions yang menyuruh mahasiswanya yang sama-sama memiliki persoalan mental-health menjadi dua kelompok, satu kelompok diminta untuk menulis selama 15 menit untuk menuliskan semua trauma dan kondisi tersulit yang dialami selama hidup untuk diekspresikan dalam bentuk tulisan. Sementara kelompok satunya tidak disuruh menulis.

Alhasil, selama enam bulan mahasiswa yang menuliskan emosinya jauh lebih sedikit menghabiskan waktunya untuk pergi konseling bila dibanding mahasiswa yang tidak disuruh menulis itu. Kesedihan itu pasti ada, dengan menulis secara tidak langsung diajak berefleksi dalam menghayati kesedihan yang dialami, lalu akan memahami siapa diri kita, mengapa kita membentuk keterikatan semacam itu.

Secara tidak sadar kita telah mempraktikkan itu dalam bentuk story WhatsApp atau Instagram yang kita buat, dengan menuliskan perasaan yang dirasakan, setidaknya mampu membuat kita puas karena telah mengekspresikan unek-unek yang mengganjal. Saya yakin menulis tidak hanya sebagai sarana menumpahkan kekesalan, tapi juga hadir sebagai media self-healing untuk memuaskan kekesalan dan menendang kesedihan itu.

Menulislah! Selain merawat kewarasan juga merawat mentalmu.

Wallahu a’lam bi al-Shawab

Author: Ali Yazid Hamdani
Ali Yazid Hamdani lahir di Probolinggo, Jawa Timur. Saat ini menjadi mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga. Ia aktif menulis esai, suka beropini, dan sesekali berpuisi. Dapat disapa melalui Instagram @ay_hamdani07

Leave a Reply

Your email address will not be published.