SURAT PENGUMUMAN NO.1650 DAN ANGIN SEGAR BAGI GERAKAN MAHASISWA DI UIN SUNAN KALIJAGA

Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (Foto: Shalaaz)

Setelah sebelumnya saya sempat mengalami perang antara akal dan batin, terkait haruskah saya menuliskan opini yang sangat rekat dengan dunia kemahasiswaan dan khususnya di kampus saya yaitu UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, namun setelah melalui beberapa pertimbangan saya merasa harus tetap menuliskan perihal ini mengingat semoga opini ini dapat menjadi alarm yang berdenting bagi para mahasiswa-mahasiswa UIN Sunan Kalijaga khususnya bagi para aktivis-aktivis di Kampus tersebut.

Beberapa waktu yang lalu saya diberi tahu oleh beberapa mahasiswa UIN Sunan Kalijaga bahwasanya dalam beberapa waktu ke depan UIN akan melaksanakan perkuliahan tatap muka, hal tersebut saya tanggapi dengan pertanyaan balik yang intinya menanyakan apa legitimasi perkataan itu.

Mengingat beberapa waktu yang lalu hal tersebut juga mencuat tatkala munculnya surat edaran dari pihak rektorat yang menjelaskan bahwasanya akan terdapat perkuliahan tatap muka namun masih bernilai ambigu yang disebabkan masih setengah-setengah antara yang diperbolehkan mengikuti sistem pembelajaran secara offline dan online.

Namun rekan saya tadi menyatakan bahwasanya kabar yang dia bawa tadi mengacu ke surat pengumuman bernomor 1650/Un.02/R.1/PK.01/05/2022 tentang pelaksanaan pelaksanaan perkuliahan tatap muka pada semester genap T.A 2021/2022 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang dimana surat ini langsung ditanda tangani oleh Wakil Rektor I.

Sontak saya melihat surat yang ditunjukan kawan saya tadi secara langsung dan mengamati bagaimana isi pengumuman yang tercantum dalam isi surat tersebut yang dimana didalam surat tersebut menyatakan bahwasanya surat tersebut mengacu kepada Surat Edaran Rektor nomor 77 Tahun 2022 dan Surat Edaran Sekretaris Jenderal Kementerian Agama nomor 12 Tahun 2022.

Lebih lanjut, pada surat tersebut terdapat dua point yang menjadi pengumuman “penting” bagi seluruh Civitas Akademika UIN Sunan Kalijaga khususnya Mahasiswa, dimana point pertama menjelaskan bahwasanya perkuliahan akan dimulai secara luring/offline per-Tanggal 17 Mei 2022 dan point kedua mnejelaskan kewajiban para Dosen untuk melaksanakan perkuliahan secara daring di Ruang-Ruang  yang telah disediakan oleh pihak Kampus dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan yang ketat.

Pada akhir paragraf surat ini ditambahkan mengenai posisi surat tersebut yang membatalkan surat bernomor 1617.3 yanng kurang lebih isi suratnya tidak jauh berbeda dengan surat bernomor 1650 ini, namun yang berbeda adalah terdapat lebih banyak point yang terdapat pada surat bernomor 1617.3 saja.

KONTROVERSI SURAT PENGUMUMAN No.1650  

Munculnya surat pengumuman bernomor 1650 tersebut dalam beberapada waktu pada akhirnya memunculkan polemik, saya mencoba untuk menggali dinamika pasca munculnya surat ini yang salah satunya diposting oleh akun instagram @uinsukaduka, dimana pada postingan pada Tanggal 12 Mei terdapat salah satu pengguna platform instagram dengan nama yang tidak terlihat pada postingan tersebut menanyakan bagaimana peran DEMA, SEMA maupun HMPS untuk bersuara terkait dampak dari surat tersebut yang mewajibkan penyelenggaraan perkuliahan secara offline meskipun  perkuliahan semester genap di Tahun Ajaran 2021-2022 menyisakan 10 Hari saja.

Pada postingan tersebut juga ditambahkan pernyataan dari pengguna instagram tersebut bahwasanya dia merasa keberatan sebab keberadaannya yang di luar Pulau Jawa sehingga jika harus ke Jogja membutuhkan ongkos akomodasi, makan dan tempat tinggal yang tidak kecil.

Postingan yag serupa juga muncul dari akun instagram @curhatanuinsuka yang mengirimkan postingan pada 20 Mei mengenai curhatan salah satu Mahasiswa yang ingin diperkenalkan sebagai anak rantau mau curhat. Dimana pada postingan tersebut Mahasiswa ini menjelaskan bagaimana keberatannya terhadap pengumuman tersebut yang disebabkan karena motif yang sama dengan sebelumnya, yaitu masalah perkuliahan yang menyisakan 10 Hari saja, namun curhatan tersebut ditambahkan dengan alasan bahwasanya orang tua mahasiswa tersebut yang gajian pada akhir Bulan den kehabisan tiket kereta.

Yang menjadi miris dari curhatan tersebut adalah bagaimana Mahasiswa tersebut menyatakan bahwasanya terdapat Dosen yang mau “mengalpakan” atau menganggapnya tidak hadir pada proses pembelajaran atau perkuliahan yang menurut interpretasi saya kondisi ini jika si Mahasiswa ini tidak mengikuti proses perkuliahan secara luring.

Namun berbagai macam kontroversi yang dihasilkan dari pengumuman nomor 1650 sebagaimana yang telah saya sampaikan di atas dapat menemui titik terang sebagaimana jika amati dari postingan @uinsukaduka yang mengirimkan screenshot percakapan antara salah satu Mahasiswa dan Wakil Rektor I UIN Sunan Kalijaga, Prof. Iswandi mengenai adakah keringanan bagi Mahasiswa yang belum bisa kembali ke Jogja dan mengikuti perkuliahan secara luring, dan dalam percakapan tersebut dijelaskan bahwasanya hal tersebut (baca:keringanan) dapat diberikan asalkan terdapat komunikasi antara Mahasiswa dan Dosen pengampu masing-masing, dan di akhir percakapan Prof. Iswandi menghimbau untuk para Mahasiswa agar dapat mempersiapkan diri untuk dapat mengikuti perkuliahan secara full luring pada semester depan.

ANTARA SURAT PENGUMUMAN 1650 DAN ANGIN SEGAR BAGI GERAKAN  MAHASISWA UIN SUNAN KALIJAGA

Setelah hampir sekitar dua Tahun setengah kehidupan Kampus khususnya UIN Sunan Kalijaga mengalami disrupsi dalam hal proses pembelajaran dengan menerapkan proses daring atau melalui platform-platform meeting online yang hal tersebut dilaksanakan dikarenakan adanya pandemi Covid-19.

Selama dua Tahun setengah itu juga beberapa kali bisa catat bahwasanya berbagai macam gerakan mahasiswa mengalami kemcacetan bergerak khususnya dalam hal konsolidasi penguatan internal masing-masing wadah gerakan tersebut.

Walaupun dapat dikatakan terdapat beberapa kali aksi nyata dari gerakan-gerakan mahasiswa ini yang dapat terselenggara di tengah badai pandemi  tersebut, namun kenyataan bahwasanya menurunnya jumlah kuantitas kader di berbagai organisasi gerakan mahasiswa adalah bukti konkrit bahwasanya pasca pandemi covid-19 sangat berdampak di berbagai sektor khususnya juga kepada organisasi mahasiswa.

Hal yang sangat dapat dimaklumi tatkala munculnya pandemi, terdisrupsinya proses perkuliahan secara online mengakibatkan kader-kader organisasi kemahasiswaan ini tidak berada pada satu locus tertentu sehingga mengakibatkan banyak program-program organisasi yang tidak berjalan secara optimal.

Bukti yang lain yang dapat kita amati secara konkrit selain bukti menurunnnya kuantitas bagi beberapa organisasi di atas adalah bagaimana proses pendaftaran Pemilihan Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Tahun 2021 yang mengalami perpanjangan yang bagi beberapa pengamat bisa dikatakan bahwasanya hal tersebut ditengarai terdapat beberapa struktur yang belum terisi. Beberapa hal lain bisa kita lihat bagaimana dalam proses PEMILWA juga terdapat dua partai yang akhirnya abstain untuk terlibat pada kontestasi PEMILWA tersebut.

Beberapa perihal di atas pernah saya jadikan topik pembicaraan bersama dengan pimpinan organisasi mayoritas di UIN Sunan Kalijaga yang pada kesimpulan pembicaraan semi-semi diskusi tersebut menyimpulkan bahwasanya fenomena di atas merupakan akibat dalam rantai kausalitas yang ditengarai gagalnya organisasi ekstra kampus khususnya di UIN Sunan Kaijaga untuk bisa mengonsolidasikan internalnya secara baik sehingga dapat menyesuaikan diri di tengah terdisrupsinya proses pembelajaran sebagai sebabnya.

 Terlepas berbagai kondisi diatas tidak bisa menjadi dasar bahwasanya para Pengurus gerakan mahasiswa ini tidak dapat beradaptasi dengan kondisi yang ada, bahkan dalam beberapa contoh membuktikan bahwasanya gerakan mahasiswa bisa melihat beberapa peluang yang bisa terjadi diakibatkan adanya pandemi covid-19 ini, termasuk salah satunya adalah mengadakan diskusi online dengan menghadirkan pemateir nasional untuk mengisi diskusi di tataran UIN Sunan Kalijaga khususnya secara online, katakanlah seorang Rocky Gerung yang mungkin belum pernah menginjakkan kakinya di UIN Sunan Kalijaga pun pernah dihadirkan untuk mengisi diskusi di salah satu organisasi ekstra yang terdapat di UIN Sunan Kalijaga.

Saya pikir dengan adanya berbagai macam kondisi-kondisi di atas ditambah dengan munculnya surat pengumuman nomor 1650 dari pihak rektorat merupakan salah satu angin segar yang bisa menjadi alasan menguatnya kembali proses-proses perkaderan yang ada di masing-masing organisasi ekstra atau gerakan-gerakan mahasiswa yang ada di UIN Sunan Kalijaga.

Tentunya menguatnya kembali posisi organisasi-organisasi ekstra ini perlu satu konsolidasi dan pembacaan yang matang dan rigid dari setiap organisasi agar dapat menentukan langkah yang tepat di kemudian Hari, sehingga secara output kedepannya dapat kita lihat muncul bibit-bibit baru Mahasiswa kritis dan memiliki kemampuan organisatoris dari rahim organisasi-organisasi maupun gerakan-gerakan mahasiswa ini.

Author: Akbar Buntoro
Ketua HMI MPO Korkom UIN Sunan Kalijaga Periode 2020-2021

Leave a Reply

Your email address will not be published.